Di Indonesia, ia sering disebut “Imam Besar Masjidil Haram”—sebuah sebutan yang menekankan prestise tertinggi. Situs UIN Imam Bonjol Padang juga menggunakan frasa “kedudukan tertinggi sebagai Imam Besar Masjidil Haram” dan menekankan dampaknya bagi murid-murid Nusantara.
Namun secara historis, yang lebih aman (dan lebih presisi) adalah menyebutnya sebagai imam/khatib yang berotoritas kuat dalam tradisi mazhab Syafi’i di Masjidil Haram, sebagaimana dirumuskan Kemenag: “tiang tengah” mazhab Syafi’i pada awal abad ke-14 H.
Ada pula klaim yang menyebut ia “imam pertama dari orang non-Arab” di Masjidil Haram. Klaim ini muncul dalam tulisan UIN Imam Bonjol. Karena pernyataan semacam itu butuh verifikasi ketat lintas sumber (sebab sejarah Masjidil Haram panjang dan kompleks). Cara paling bertanggung jawab adalah menempatkannya sebagai klaim dari sumber tersebut—bukan sebagai fakta tunggal yang sudah final.
Kalau ada “logika” di balik kisah ini, ia tidak mistis; ia sangat duniawi—dan justru itu yang menakjubkan.

















































