Muharlion menilai, distribusi air dengan mobil tangki tidak bisa sepenuhnya menjamin kebutuhan harian masyarakat karena kemungkinan hanya bisa dilakukan satu hingga dua hari sekali. Padahal, kebutuhan air bersih bersifat harian dan mendesak.
“Kalau sumur bor bisa cepat direalisasikan, masyarakat akan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan air. Apalagi kemarau ini bisa berlangsung cukup lama, bahkan hingga menjelang bulan suci Ramadhan,” ujarnya.
Ia menargetkan, sebelum bulan Ramadhan, setidaknya 60 persen wilayah terdampak sudah dapat tertangani melalui pembangunan sumur bor. Sementara sisanya masih dapat dibantu melalui suplai air bersih menggunakan mobil tangki.
Dari hasil pendataan sementara, jumlah titik terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 titik. Untuk mengejar target tersebut, Muharlion membuka kemungkinan melibatkan kontraktor dari luar daerah jika kapasitas kontraktor lokal tidak mencukupi.
“Yang terpenting sekarang adalah kecepatan. Kalau perlu, kita libatkan tenaga dari luar. Kita ingin persoalan ini cepat selesai agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan air bersih,” pungkasnya. (Salih)






















































