Adonan dibuat dengan mencampurkan tepung hunkwe, gula, vanili, dan air. Kemudian dimasak hingga mengental.
Setelah itu, adonan dibagi ke beberapa wadah dan diberi pewarna. Adonan berwarna tersebut dituangkan ke loyang, didinginkan, lalu dibekukan. Setelah beku, es dipotong-potong dan siap dijajakan.
Di tengah gempuran jajanan modern, es gabus tetap bertahan sebagai simbol kuliner rakyat yang murah. Mudah dibuat, dan digemari lintas generasi.
Selain sebagai pelepas dahaga, es gabus juga menjadi bagian dari warisan kuliner yang merekam memori masa kecil banyak orang Indonesia.
Keberadaan es gabus menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Sekaligus menjadi pengingat pentingnya literasi pangan agar informasi keliru tidak menggerus kepercayaan publik terhadap produk pangan lokal. (*)






















































