Akademisi Universitas Negeri Padang, Yuli Hendra Multi Albar, mendukung pandangan tersebut. Ia menilai fotografi lebih mudah dipahami publik dibandingkan narasi teks, sehingga efektif untuk menyampaikan pesan budaya.
“Visual bisa menyampaikan pesan secara langsung dan lebih cepat dipahami masyarakat,” jelas Yuli.
Fotografer LKBN Antara, Iggoy el Fitra, menyoroti perubahan wajah Kota Padang pascagempa 2009 yang terekam dalam dokumentasi foto. Ia menilai, ruang diskusi fotografi masih minim meskipun minat masyarakat dalam kegiatan hunting foto terus meningkat.
“Kita perlu lebih banyak ruang untuk mendiskusikan karya agar kualitas fotografi meningkat,” katanya.
Kepala UPTD Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah, menyatakan museum siap menjadi tempat penyimpanan dan pameran karya fotografi bernilai sejarah.
“Foto hari ini adalah arsip sejarah masa depan. Museum siap menampung dan menampilkannya,” ujar Tuti.
Koordinator PPF, Budi Ramadhon, menjelaskan bahwa festival ini merupakan hasil kolaborasi dengan DPRD Sumbar dan Museum Adityawarman. Kegiatan ini menghadirkan pelajar, mahasiswa, komunitas fotografi, dan masyarakat umum.























































