SPIRITSUMBAR.COM – Surau di Minangkabau, bukan sekadar bangunan kecil untuk shalat. Ia mesin pembentuk karakter dengan disiplin, hafalan, adab, dan jalan hidup yang bisa melampaui batas kampung.
Dari ekosistem inilah lahir seorang anak bernama Ahmad Khatib, yang kelak namanya menempel pada dua dunia sekaligus, Minangkabau dan Makkah.
Sumber resmi Kementerian Agama mencatat ia lahir di Koto Tuo, Balai Gurah, Kabupaten Agam , Sumatera Barat (Sumbar) pada Senin, 6 Zulhijah 1276 H/ 1860 M.
Sebagaimana ditulis Lajnah Penta shihan Mushaf Al-Qur’an , Ahmad Khatib terlahir dari ayah Abdul Latif bin Abdullah dan ibu Limbak Urai binti Tuanku Nan Renceh. Abdul Latif berasal dari Koto Gadang sedangkan Limbak Urai dari Koto Tuo Balai Gurah.
Sejak kecil, Ahmad Khatib menaruh minat besar pada ilmu dan ulama. Ia belajar membaca Al-Qur’an kepada ayahnya di sebuah maktab (lembaga belajar dasar) hingga usia kira-kira 11 tahun. Di usia yang bagi kita sekarang identik dengan kelas 5–6 SD, ia sudah berada di ambang keputusan hidup yang besar: pergi ke Makkah.
















































