Pulang sebentar, lalu kembali: ilmu yang berputar seperti arus rantau
Ada fase penting yang sering terlewat dalam kisah populer Ahmad Khatib sempat pulang ke Minangkabau pada 1292–1294 H, terutama untuk melepas rindu kepada ibunya. Menariknya, kepulangan singkat itu tidak ia habiskan untuk “istirahat”. Ia belajar kepada ulama lokal dan, bersama mereka, menerjemahkan buku-buku Arab ke bahasa Jawi (Melayu-Arab).
Di sini terlihat dua hal: pertama, ia tidak memutus akar intelektual lokal.Kedua, ia sudah bergerak sebagai penghubung ilmu—dari pusat (Makkah) ke pinggiran (Nusantara)—bahkan sebelum namanya meledak.
Setelah fase ini, ia kembali ke Makkah. Dan inilah panggung sebenarnya.
Sumber Kemenag menggambarkan Ahmad Khatib sebagai alim yang berpegang teguh pada mazhab Syafi’i. Sekaligus menguasai banyak disiplin yang sangat praktis bagi kehidupan ibadah, fikih, ilmu falak (astronomi untuk penentuan waktu dan arah), ilmu hitung/ukur, aljabar, dan ilmu waris.




















































