Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Dari Surau ke Mimbar Masjidil Haram

Kemenag menunjukkan Ahmad Khatib sudah berada di Makkah sejak usia belia, belajar pada guru-guru besar, lalu berkontribusi lewat karya dan pengajaran

oleh

Saat masih berusia 11 tahun pada 1287 H, Ahmad Khatib berangkat ke Makkah bersama ayahnya, kakeknya, dan pamannya, Abdul Gani. Ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi semacam “beasiswa” zaman dulu—dibayar dengan keberanian keluarga dan daya tahan badan.

Setelah menunaikan rangkaian haji, ada pola yang sering terjadi pada pelajar Nusantara, orang tua pulang, anak tinggal untuk menuntut ilmu. Dalam narasi Kemenag, Ahmad Khatib menetap di Makkah untuk belajar agama dan menghafal Al-Qur’an.

Di Masjidil Haram, ia masuk ke tradisi *halaqah*—lingkaran belajar yang berjalan hampir tanpa henti.Guru membaca, menerangkan, murid menyimak, bertanya, lalu mengulang sampai paham.

Nama-nama gurunya yang tercatat antara lain Sayyid Bakri Syatha dan Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (tokoh penting mazhab Syafi’i di Makkah). Juga Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makky dan Syekh Abdul Hadi.

Pada titik ini, kita bisa melihat rumus klasik “ulama besar”: bukan lahir dari satu guru, tetapi dari ekosistem guru—lalu dilipatgandakan oleh kerja keras yang konsisten.

Menarik dibaca