Kegalauan orang tua terhadap anaknya ibarat sebuah istilah masyarakat di Minangkabau yang mengatakan “Sarupo maninggaan nasi di ateh munggu” bagi seseorang yang sedang bekerja di sawah. Jangan-jangan sewaktu kita bekerja di sawah, nasi yang ditinggalkan di atas munggu di hinggapi oleh semut dan tidak bisa dimakan lagi. Konsentrasi didalam bekerjapun menjadi hilang dibuatnya, karena selalu memikirkan keselamatan anaknya.
Sebagai sebuah contoh kejadian tindak kekerasan yang baru saja terjadi adalah kekerasan senior terhadap yunior di sekolah tinggi ilmu pelayaran (STIP) Marunde Cilincing Jakarta Utara. Sebagai korbannya adalah Amirullohadiyasputra (19 tahun) taruna STIP tingkat I yang dianiaya oleh beberapa orang seniornya. Hancur danluluh lantak perasaan kita dibuatnya
Belajar dari kejadian itu, tentunya orang tua yang lainpun merasa agak cemas ketika anaknya berada di sekolah. Untuk menghilangkan kecemasan orang tua sewaktu anaknya berada di sekolah, sudah selayaknyalah pihak sekolah bekerjasama dengan unsur-unsur terkait seperti komite sekolah, aparat keamanan serta masyarakat disekitar sekolah untuk merapatkan barisan dalam melakukan sebuah kegiatan dan tindakan yang sifatnya menstop keberadaan gengster di sekolah.





















































