Beban dan cobaan berat tersebut memang terbeban dipundak Polri dalam penanganan memberangus habis terorisme di Indonesia sampai embrio-embrionya harus ditumpas habis. Polri siap menjalankan amanah tugas negara. Bahkan pemerintah dan DPR. RI sedang sibuk menggodok RUU Penanggulangan Terorisme dilibatkan TNI, ini memang sudah betul, Seluruh komponen bangsa sangat mendukung peran aktif TNI dalam membrangus berkembangnya predator redikalisme dan terorisme di Indonesia dengan semboyan “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”!.
Dua komponen bangsa ini sebagai garda depan menciptakan situasi yang kondusif negara kita dalam kondisi apapun. Mencegah dan menangkal tindakan dan perbuatan paham terorisme dan perbuatan makar di Republik Indonesia. Kemampuan TNI sudah teruji di mata dunia internasional ketika, pembebasan sandera oleh Perampok Somalia yang sangat ditakuti oleh para nahkoda kapal diseantero dunia waktu itu.
Didalam mencegah dan menangkal berkembangnya dan gentayangannya predator radikalisme. terorisme memang tak bisa dipisahkan. TNI harus dilibatkan berperan aktif dalam satu kebersamaan dengan Polri. Apalagi motto TNI “Keutuhan NKRI Harga Mati” dan Kebhineka tunggal ikaan tetap satu dan abadi, bagai mata rantai yang tak putus dihantam badai. Meskipun Polri sudah misah dengan TNI, masalah demi menjaga keutuhan NKRI tetap sigap, siap komandan!, bersatu sebagai perisai baja yang berkualitas dan profesional bela negara. Sebab rakyat secara jujur menginginkan negara kita ini “Adem Ayem”selalu aman tentram dan damai. Marilah sebagai komponen bangsa dan rakyat Indonesia kita satukan langkah dalam rajutan bingkai keutuhan kebhinnrkatunggalikaan, mawas diri dari indikasi lahirnya imbrio predator radikalisme tankal sejak dini.























































