Kedua, menciptakan iklim dan budaya sekolah yang kondusif. Bagaimana seorang kepala sekolah mengajak dan mengurangi resistensi guru-guru terhadap perubahan kurikulum yang terjadi.
Hal ini sangat penting diperhatikan agar apa yang pernah terjadi pada perubahan kurikulum sebelumnya tidak terulang kembali. Sebagai contoh, adanya paradigma guru, walaupun kurikulum berubah cara mengajar guru masih dengan cara lama yang masih kurang membelajarkan peserta didik dengan pembelajaran siswa aktif.
Pada kurikulum 2013 akan terjadi perubahan paradigma mengajar dari kurikulum sebelumnya (kurikulum 2006). Hal ini membuat guru-guru keteter dalam proses mengajar, mengapa tidak, pada kurikulum 2006 seorang guru memberikan materi kepada siswa yang sangat banyak, akibatnya gurupun kejar tayang, tergesa-gesa dalam menyampaikan materi pelajaran.
Sementara, pada kurikulum 2013 guru lebih dituntut mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, mengarahkan pembelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan pendidikan karakter, kemampuan berfikir tingkat tinggi, 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication), serta penerapan Literasi dalam pembelajaran















































