Di era sekarang kemajuan profesi wartawan sudah mengikuti arus kebutuhan. Makanya ada wartawan parlementaria, yang bertugas meliput kegiatan legislatif, watawan bidang hukum, bidang jasa kontruksi, bidang lingkungan, tentu semua harus mempunyai bekal dan pengalaman serta peningkatan kopentensinya, dan jangan ogah-ogahan membaca iptek, kerelegiusan, sosial budaya dan lainnya, wawasan juga akan bertambah.
Berbobot atau tidaknya karya jurnalistik, yang menilai itu masyarakat. Disamping itu contoh, kalau wartawan mengkritisi bidang jasa kontruksi, setidaknya disamping punya pengalaman bidang teknis sipil, fondasi lebih kuatnya berlatar belakang akademis bidang teknis sipil. Wartawan sering menulis bidang pertanian/perkebunan, teknis lingkungan, sosial budaya, ekonomi, hukum, kehutanan, kelautan, harus menguasai materi obyek/bidang tersebut/punya kopetensi.
Profesi wartawan, bukan hanya sudah atau sekedar mengantongi kartu anggota PWI, AJI, KWRI dlsbgnya lalu busungkan dada. Yang dituntut profesi wartawan harus inovatif dan kreatifitas, dimana sering menulis/berakarya punya media tetap. Apalah artinya punya kartu pers dari suatu kelembagaan Pers tetapi tak pernah menulis dimedia, atau hanya berbekal kartu pers yang ditafsirkan hanya untuk nakut-nakuti kucing garong.





















































