Salah satu momen yang menggugah dalam acara ini adalah pembacaan puisi oleh Dr. Ardi Wina Saputra, dosen sekaligus penggagas acara, yang membawakan puisi Ramadan Malam Lebaran karya Sitor Situmorang. Pilihan puisi ini terasa begitu relevan dengan semangat Ramadan yang penuh refleksi dan kebersamaan. Lebih dari sekadar membacakan, beliau juga menekankan bagaimana sastra dapat menjadi alat untuk menanamkan nilai toleransi dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang semakin beragam.
Fileski Walidha Tanjung juga menekankan pentingnya puisi sebagai media refleksi dan penyampaian gagasan. Ia melihat acara ini sebagai ruang kreatif yang tidak hanya mendorong mahasiswa untuk berekspresi, tetapi juga memperkuat ekosistem sastra di Madiun. Apresiasi ini mengingatkan kita bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif dan membuka ruang dialog yang lebih luas.

Keterlibatan dosen dalam acara ini juga memberikan inspirasi tersendiri. Partisipasi Dr. Gregoria Ariyanti, Arielia Yustisiana, dan Wenny Wijayanti dalam pembacaan puisi menunjukkan bahwa sastra tidak mengenal sekat keilmuan. Bahkan di antara disiplin ilmu yang berbeda, puisi tetap dapat menyatukan berbagai pemikiran dan emosi dalam satu ruang yang sama. Hal ini menjadi bukti bahwa sastra bukan hanya untuk mereka yang bergelut di bidang bahasa dan sastra, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki keresahan dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu.
























































