Karena itu, jika di RSUD dan di RSI Yarsi juga dicatat seperti wacana pencatatan di sekolah tadi, jumlah kunjungan dari luar daerah terkait layanan kesehatan di kota ini akan tercatat jauh lebih banyak. Terus jika data kunjungan terkait dunia pendidikan dan layanan kesehatan itu digabung kunjungan ke obyek wisata dan nginap di hotel, jumlahnya akan bisa jutaan orang.
Selama ini data kunjungan di Kota Padang Panjang yang dicatat itu, seperti diakui oleh Kepala Bidang Litbang dan Data Bappeda setempat, Putra Dewangga, baru kunjungan ke obyek wisata, nginap di hotel dan singgah di sejumlah RM/Restoran tertentu. Dampaknya, kunjungan wisatawan ke kota ini baru sekitar 300.000-an orang.
Itu dampak dari definisi kunjungan wisatawan oleh Pemko Padang Panjang masih cendrung terbatas ke obyek wisata, nginap di hotel dan singgah di RM/Restoran. Mestinya dikembangkan, seperti di Malaysia, definisi kunjungan wisatawan termasuk terkait dunia pendidikan (education tourism), berobat (health tourism), mengikuti iven ( event tourism), dan lainnya.
























































