Muhidi menegaskan, langkahnya terjun ke dunia politik semata-mata untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. “Saya masuk politik bukan untuk diri sendiri, tapi agar bisa membawa perubahan. Jangan takut menghadapi masalah, karena di balik setiap masalah selalu ada peluang,” tutupnya.
Para guru menyampaikan berbagai kendala, di antaranya keterbatasan tenaga administrasi. Hanya tiga orang berstatus ASN, selebihnya honorer dengan penghasilan dari dana BOS sekitar Rp1,2 juta dan komite sekolah Rp800 ribu.
Kondisi ini dinilai belum sebanding dengan beban kerja. Guru juga menyoroti penurunan jumlah pengajar bergelar S2. Jika sebelumnya 85 persen guru telah menempuh pendidikan magister, kini hanya sekitar 15 persen. Biaya kuliah yang tinggi dan tidak adanya dukungan beasiswa menjadi penyebab utamanya.
Sementara di SMA Negeri 10 Padang, Muhidi disambut oleh Kepala Sekolah Muhammad Isya. Para guru menyampaikan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, namun terkendala biaya. Mereka berharap adanya dukungan beasiswa dari pemerintah agar kualitas tenaga pendidik terus meningkat.























































