Kerangka pemikiran ini menyediakan fondasi konseptual yang kuat untuk membaca peran kearifan lokal sebagai modal adaptif dalam merespon bencana.
Penelitian (May Nessa Yolanda & Fahmi, 2025) menunjukkan bahwa penurunan risiko korban jiwa lintas generasi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui internalisasi pengetahuan lokal dalam tindakan sosial.
Pada level struktural, masyarakat mengembangkan pola permukiman yang menjauhi alur sungai, memanfaatkan rumah gadang berbahan kayu lentur yang adaptif terhadap guncangan, serta membangun jembatan tanpa penyangga tengah untuk mengurangi risiko sumbatan material saat galodo.
Kemudian pada level non-struktural, masyarakat mengenali tando-tando alam seperti hujan di rimbo, perubahan aliran bangkahan sampik, dan bunyi gamuruah sebagai sistem peringatan dini berbasis observasi ekologis.
Praktik mancari rumah dunsanak serta penyebaran informasi melalui tambo (lapau, masjid, komunikasi lisan) menjadi mekanisme evakuasi dan koordinasi sosial yang efektif. Efektivitas sistem ini tercermin dalam penurunan korban jiwa dari peristiwa galodo 1979 ke 2009 hingga 2024.

























































