Iwan Fals, Putra Minangkabau yang Melegenda

Akar Minangkabau yang Tak Pernah Putus

oleh

Ibunya pula yang mengajarkan nilai kemanusiaan—bahwa hidup bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi soal peduli dan berbagi rasa. Nilai ini kelak menjelma dalam lagu-lagu Iwan Fals yang selalu berpihak pada mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Kampung Halaman: Akar Minangkabau yang Tak Pernah Putus

Secara geografis, Iwan Fals memang lebih banyak tumbuh dan besar di berbagai kota, mengikuti pekerjaan ayahnya. Namun secara kultural, akar Minangkabau tetap menjadi bagian dari identitasnya.

Kampung halaman ayahnya di Sumatera Barat adalah simbol asal-usul—tempat nilai, bukan sekadar tanah, diwariskan.

Minangkabau dikenal dengan falsafah hidup “alam takambang jadi guru”—alam dan kehidupan adalah sumber pelajaran. Prinsip ini terasa hidup dalam lagu-lagu Iwan Fals yang kerap mengangkat realitas sosial apa adanya, tanpa polesan. Ia belajar dari kehidupan, dari jalanan, dari suara-suara kecil yang sering diabaikan.

Pepatah Minang “kok indak ka nan bana, ka mano lai hati manuju” seolah menjadi napas dalam karya-karyanya. Kritik sosial yang ia sampaikan bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan pada keadilan dan kemanusiaan.

Menarik dibaca