Selain hasil panen yang meningkat, metode ini juga memberikan efisiensi signifikan. Jika sebelumnya petani membutuhkan lima karung pupuk kimia dengan biaya sekitar Rp4 juta, kini kebutuhan tersebut tidak ada lagi. Penggunaan benih juga lebih hemat, hanya 5 kilogram dari sebelumnya 15 kilogram.
Bahkan limbah jerami sekitar 500 kilogram setiap panen dapat dimanfaatkan kembali menjadi mulsa dan pupuk organik, sehingga ramah lingkungan sekaligus memperbaiki kesuburan tanah. Sistem pertanian terpadu berbasis organik seperti SABAKO ini merupakan inovasi yang sangat baik dan baru pertama kali dilakukan di Bungus Timur.
Praktik ramah lingkungan ini tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan daerah.Harapan ke depan semakin banyak kolaborasi yang dilakukan Pertamina bersama Pemerintah Kota Padang untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Melalui MAKE CAPABLE, tidak hanya berhasil mewujudkan swasembada pangan, tetapi juga menjadi contoh penerapan pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.























































