Pertama, kita harus terus memperjuangkan nilai demokrasi, hak asasi manusia, toleransi, dan kemajemukan. Setop intoleransi, setop xenophobia, setop radikalisme, setop terorisme. Terus kikis politik identitas di negara kita dan di berbagai belahan dunia, baik itu atas dasar agama, etnisitas, identitas askriptif lainnya. Politik identitas merupakan ancaman terhadap kualitas demokrasi, ancaman bagi kemajemukan, dan ancaman bagi toleransi. Ancaman ini semakin nyata jika terus dieksploitasi demi kepentingan politik jangka pendek yang mengakibatkan kebencian, ketakutan, bahkan konflik sosial. Sebagai 2 negara yang demokratis dan majemuk kita harus bekerja keras bahu membahu, berdiri tegak untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi serta kemajemukan dan mencegah dunia dari ancaman clash of civilization.
Kedua, Indonesia dan Australia harus memperkuat prinsip ekonomi terbuka, bebas, dan adil. Di tengah maraknya proteksionisme kita harus terus menyuarakan keterbukaan dan keadilan ekonomi. Di tengah tumbuh suburnya pendekatan zero sum game kita harus terus memperkokoh paradigma win-win. Saya sangat percaya bahwa sistem ekonomi terbuka dan adil adalah akan menguntungkan semua pihak. Itu mengapa saya menyambut baik kesepakatan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership (IA-CEPA).

















































