HJK ke-230, Padang Panjang Berpeluang Lagi Raih Kejayaannya

oleh

Perannya sebagai kota pelajar mulai tumbuh di awal abad ke-20. Awalnya, berdiri Perguruan Thawalib pada 1911 M di Jalan Prof. HAMKA, sekitar 150 meter arah utara dari Perguruan Diniyah Putri di Kelurahan Pasar Usang kini. Sebelum itu di Padang Panjang berdiri Normal School (sekolah guru) yang kini jadi kampus SMAN-1 Padang Panjang.

Pendirian Thawalib yang dipromotori oleh Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), ayah Buya HAMKA itu adalah pesantren pola klasikal pertama di tanah air. Ini inovasi dari pengajian pola khalaqah di Surau Jambatan Basi (Masjid Zuama’kini) sekitar 150 meter ke arah timur dari kampus Thawalib Putra sekarang.

Kehadiran Thawalib jadi inspirasi berdirinya pesantren pola klasikal lain di  Padang Panjang dan tempat lain. Di Padang Panjang sendiri setelah itu berdiri Diniyah School pada 1915,  Thawalib Gunung (1918),  Diniyah Putri (1923), Perguruan Muhammadiyah Kauman (1926), MIN Adam-BB (1930) dan seterusnya.

Perkembangan inilah yang membuat Rektor Universitas Al Azhar, Mesir, Abdul Rahman Taj, begitu kaget saat berkunjung ke Padang Panjang pada 1956. Sebab, muridnya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Indonesia timur, dan dari beberapa negeri jiran. Dia juga kaget,karena di sini ada pesantren khusus wanita (Diniyah Putri)

Menarik dibaca