Guru Halimah
Tiba-tiba Arman berhenti. Air matanya menggenang. Dengan suara serak Arman melanjutkan kata-katanya. “Sampai-sampai semua kertas ulangan dan buku catatan waktu belajar dengan Ibu dipinjam guru tersebut”. Sampai di situ Guru Halimah tidak menyadari air matanya berjatuhan di pipinya.
“Maaf… hari ini hari yang luar biasa”, suara Arman agak tertahan. Guru Halimah bingung apa maksud Arman.
“Waktu sekolah saya pernah masuk kantor guru mengantarkan tugas. Saya lihat nama Ibu di papan data, lahir tanggal 4 Mei. Sejak itu saya tak pernah lupa. Allah mempertemukan kita hari ini. Ibu berulang tahun hari ini. Selamat Ulang Tahun, Bu . . ”
Mata Arman berkaca-kaca sambil menyalami Guru Halimah. Ema menyeka sudut matanya dengan ujung jilbabnya. lalu memeluk Guru Halimah. Randi mencium tangan Guru Halimah dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan suara pelan.
Guru Halimah betul-betul tidak bisa menahan haruya. Mula-mula dadanya sesak terus naik ke tenggorokan. Meledaklah tangisnya, ketika Ema isteri Arman memberikan dua kantong belanja berisi tas, baju dan sepatu untuknya.
















































