SPIRITSUMBAR.COM – Di trotoar yang panas dan bising Kemayoran, seorang kakek berdiri dengan gerobaknya. Tangannya renta, matanya letih, tetapi harapannya sederhana: es jadul atau es gabus yang ia jajakan hari itu laku. Cukup untuk makan malam, cukup untuk esok pagi. Tak ada yang ia sangka, sepotong es beku akan menjadi bara yang membakar martabat.
Sebuah video lalu beredar, seperti angin yang membawa debu. Dua oknum aparat berseragam, bersuara tegas berdiri di depan kakek itu. Mereka berbicara tentang “spons” yang katanya bersembunyi di balik manisnya es jadul.
Di hadapan kamera, es itu diperas, dan dituduh, seolah kebenaran bisa dipaksa keluar dari uap dan asap.
Kakek itu diam. Diamnya bukan kosong, melainkan penuh: penuh kelelahan, penuh takut, penuh ketidakberdayaan.
“Habiskan, makan,” terdengar perintah yang tak sekadar kata, melainkan tekanan. Seolah hidupnya, reputasinya, dan dagangannya, semua bisa diuji di hadapan layar gawai jutaan orang.



















































