Polisi mengganti kerugian dagangannya, sebuah isyarat empati di tengah hiruk-pikuk tudingan. Barangkali uang itu tak mampu menghapus luka batin. Tetapi setidaknya ia mengakui satu hal penting: ada yang salah ketika kebenaran dikorbankan demi tontonan.
Kisah ini bukan sekadar tentang es gabus. Ini tentang bagaimana rumor dapat menjadi palu, memukul tanpa verifikasi.
Tentang bagaimana seragam, yang seharusnya melindungi, bisa menjadi sorotan yang menyilaukan bagi mereka yang rapuh.
Tentang bagaimana media sosial, dengan satu klik, dapat mengubah gerobak sederhana menjadi tribunal publik.
Pada akhirnya, polisi mengimbau kita untuk lebih bijak, memeriksa sebelum membagikan, berpikir sebelum menuding, menimbang sebelum menghakimi.
Sebab di balik setiap video viral, ada manusia yang bernapas, bekerja, berharap. Dan tidak semua kebenaran dapat diuji dengan api, sebagian harus diuji dengan nurani.
Di trotoar Kemayoran, mungkin gerobak itu kini kembali berdiri. Es gabus kembali ditawarkan, manis, dingin, dan jujur.

























































