Sementara itu, Padang Panjang, kota kecil (23 KM2 versi PPDA 2018) ini, ikut berkontribusi 80 Ha. Tapi dari dulu peran Padang Panjang, bekas Ibukota Provinsi Sumatera West Kust pada 1837 itu, terkait kulit manis dan rempah lainnya lebih sebagai pusat pengumpul. Namun peran ini jauh berkurang, belakangan.
Dulu, di abad ke-19 hingga 20 pertengahan, Padang Panjang juga tampil sebagai pusat pengumpul kayu manis dan produk rempah-rempah lainnya dari pedalaman bagian tengah/utara Sumbar. Terus dari kota ini diangkut ke Pesisir barat (Kota Padang kini) untuk dikirim lewat laut ke luar negeri, seperti ke eropa.
Peran tadi terkait letak strategis Padang Panjang di pertigaan jalan raya jantung Sumbar, yakni dari arah Padang (barat) ke Bukittinggi (utara) dan ke Solok (selatan) mulai 1827 M. Disusul pertigaan jalan kereta api di jalur yang sama mulai 1890-an. Jauh sebelum 1827 M, jalur tadi ditempuh dengan berkuda/jalan kaki.
Balik ke informasi kayu manis di Kerinci. Tadi, saat harga kayu manis anjlok, sebagian petani beralih ke tanaman produktif lain, seperti kopi arabika, palawija dan sayur. Selanjutnya, petani berupaya sabar menunggu naiknya harga kulit di pasar lokal. Lagi pula, kayu manis paling cepat layak dipanen di umur 15 tahun.
























































