Keramaian pengunjung membeli buku pada IIBF-2025 yang menampilkan puluhan ribuan judul buku dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Jerman dan lainnya itu, seperti yang terpantau Spiritsumbar, Sabtu malam (27/9) di depan loket-loket pembayaran muncul sekitar 6 antrian cukup panjang.
Rahma, pegawai di salah satu perusahaan asing perwakilan Jakarta, yang ikut di salah satu antrian cukup panjang itu, menyebut kepada Spiritsumbar di JCC, dia sempat menunggu 30 menit lebih untuk bisa sampai ke loket tempat membayar 3 buah buku yang dia pilih di pameran buku global tersebut.
Sepertinya, ini (keramaian orang membeli buku Red-) indikator bahwa banyak orang masih atau kembali suka membaca buku cetak. Bisa jadi juga itu sinyal akan prospek usaha penerbitan buku cetak di masa depan? Tapi itu tentu perlu penelitian secara akademik, imbuh jebolan S1 dan S2 manajemen di luar negeri tersebut.
Terkait program IRF, ini pertama kali hadir di IIBF. Lewat kehadieran program IRF, ajang bertemunya penerbit dan agen buku antar negara itu, kerjasama pertukaran penerbitan buku antar negara relatif mudah terwujud. Buku dari Indonesia bisa terbit dan beredar di eropa, dan sebaliknya.




















































