“Kami rugi dua kali. Pertama Kami menjual gabah kami dengan harga murah yaitu Rp 5600 – Rp 5900 per liternya ke pedagang Batu sangkar. Kemudian setelah menjadi beras kami terpaksa membelinya kembali dengan harga ,Rp 19 ribu – Rp 20 ribu per liternya. Ini kerugian kedua.
Boy Hendri menambahkan di Kecamatan Talawi tidak mempunyai Heller yang bisa menampung seluruh hasil gabah petani di saat musim panen tiba. Oleh sebab itu, Ia berharap adanya semacam Bank Tani yang mampu mengakomodir seluruh hasil pertanian dengan harga yang layak dan pantas.
“Kami sangat berharap kepada Pak Bagas untuk memperjuangkan nasib kami melalui Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat agar dapat mendirikan Bank Tani di Kecamatan Talawi ini,” ujarnya.
“Karena 80 persen mata pencaharian penduduk adalah pertanian. Kami sudah mencoba mengusulkan ke pemerintah kota maupun anggota DPRD Kota Sawahlunto dapil Talawi tapi belum ada hasilnya sampai sekarang,” tuturnya
Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Anggota DPRD Sumbar Bagas Panyusunan Nasution mengatakan bahwa kewenangan untuk mengakomodir hasil pertanian melalui Bank Tani merupakan kewenangan Pemerintah Kota Sawahlunto.























































